Saleum Troeh Teuka

Saleum Troeh Teuka
Selamat datang wahai saudaraku ke tempat kami

Minggu, 08 Juli 2012

Pendapat Mayoritas - Assawadul A'zham -




IKUTILAH AHLI SYURA DAN PENDAPAT MAYORITAS KAUM MUSLIMIN
Oleh : Hadya Noer

Akhir-akhir ini telah banyak kita lihat perbedaan pendapat dikalangan umat Islam semakin meluas tidak hanya dikalangan para Ulama, tetapi juga dikalangan intelektual islam. Parahnya lagi ranah yang seharusnya menjadi "Ikhtilaful Ulama" ini menjadi konsumsi umat yang notabene sama sekali tidak memiliki kapasitas keilmuan dalam bidangnya. Perang pemikiran semakin berkembang terus seiring dengan perkembangan zaman (antara umat islam dan islam sekuler/pembaharuan). Ini diperparah lagi dimana pemerintah sebagai (ulil amri) tidak memiliki sikap ketegasan dalam menetapkan berkenaan dengan perkara hukum itu tadi (karena negara tidak mengurus agama) sebuah pemikiran yang "absurd" menurut saya. Sebagaimana yang telah digambarkan oleh baginda nabi shallallahu'alaihiwasallam, "Barangsiapa yang hidup lama sesudahku maka akan kalian temukan perselisihan yang besar ditengah-tengah umat. Bila engkau temukan perselisihan itu maka kembalilah kepada Al quran dan Sunnahku". Hadist ini shahih dan jelas sekali keterangannya, namun ternyata tidak mudah untuk dijalankan.

Perkataan Nabi berkenaan kembalilah kepada Al Quran dan Sunnah begitu jelas dikemukakan oleh baginda Nabi Shallallahu'alaihiwasallam. Namun tidak semua orang diperkenankan melakukannya (istinbath langsung kepada Al Quran dan Hadist).

Timbul pertanyaan siapakah yang mampu mengambil hikmah atau istinbath hukum yang terkandung di dalam Al Quran dan Hadist itu tadi. Ijtihad siapa yang harus kita ikuti ? bahkan ada dikalangan umat islam ketika kita katakan ikutilah pendapat yang masyhur dikalangan (jumhur) ‘ulama, mereka mengatakan ulama siapa, na'uzubillah?. Lalu kita bertanya agama islam yang kita jalani selama ini dengan segala ketentuan (syari’at) nya ini apakah langsung datang dari pada baginda nabi?. Lalu apa makna hadist "al 'ulama warisatul anbiya"?.

Padahal ‘ulama itu sendiri adalah :
العارفون بالكتاب و السنة

Mereka yang ‘arif dengan Al Kitab dan As-sunnah (I’anatuth Thalibin : 3 : 157, Bab Waqaf)

Umat islam kita saat ini telah berada pada degradasi iman, akhlaq dan islamnya. Inikah umat yang mampu membangun sebuah peradaban? inikah umat yang mampu menetapkan ijtihad Dinul Islam? umat yang terbaik?.

Di dunia ini hanya beberapa orang saja yang disebut sebagai ulama mufassirin dan muhaddistin yang memiliki kemampuan dan kapasitas keilmuan di bidangnya. Diantaranya adalah :

  1. Fadhilah Syeikh DR.Wahbah Zuhaili (Syafi’iy),
  2. Syeikh DR. Ramadhan Al Buthi (Syafi’iy),
  3. Syeikh DR.Ali Jum'ah (Syafi’iy),
  4. Syeikh DR.Yusuf Qardhawi (Kontemporer) dan
  5. Allahyarham Maulana Syeikh DR.Muhammad Hasan Al Maliki Al Makki (Maliki/Syafi’iy).

Mereka adalah ulama mujtahidin namun mereka tetap bermazhab kepada ulama-ulama mu’tabarah. Perhatikan dari ke-5 ulama tadi sebagian besar bermazhab Syafi’iy. Bila kita ingin menggunakan pendapat sendiri maka bangunlah agama sendiri (Ahlul bid'ah).

Dalam menyikapi perbedaan pandangan ini saya tertarik untuk mencoba menarik benang merah dimana kita umat islam kita ini harus bersandar (dalam masalah aqidah, syariat dan mu’amalah). Ini muncul bermula adanya seorang tokoh ormas islam yang mengatakan, keputusan MUI bersifat "one man show" dan tidak sesuai dengan semangat demokrasi (dalam penentuan isbath 1 Ramadhan dan 1 Syawwal). Pertanyaannya apakah kita ikuti demokrasi ataukah Ayat wal Hadits dalam penetapan masalah agama ?.

Berikut pendapat para ulama-ulama mutaqaddimin dalam menyikapi pendapat dikalangan umat :

(As Shamad Al A'zam) : Dalam kitab "At-Tariq Ila Jamaah Al-Muslimin", tulisan Husain bin Muhsin bin Ali Jabir menyatakan, syarat ahli majlis Syura adalah seperti berikut; [m.s : 60]
1-     Adil [tidak buat dosa kecil dan besar]
2-     Bertaqwa [tidak dikenal sebagai orang yang melakukan pengkhianatan kepada Allah dan umat].
3-     Memiliki Ilmu tentang Al-Quran dan hadist dan yang berkaitan dengannya
4-     Mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang perkara yang diminta pandangan [Al-Mustasyar Fih ; المستشار فيه] ]
5-     Kebijakan Luar Biasa.
6-     Amanah dan benar.

Nabi Shallallahu'alaihiwasallam menerima pandangan mayoritas ketika berlaku perbedaan pendapat; Sabda Nabi Shallallahu'alaihiwasallam ;
إِنَّ أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ فَإِذَا رَأَيْتُمْ اخْتِلَافًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ

Maksudnya; “Sesungguhnya Umatku tidak akan bersepakat atas kesesatan. Sekiranya kamu lihat perselisihan, maka hendaklah kamu ambil “As-Sawad Al-‘Azam”” [Ibnu Majah : 3940]

Dalam menafsirkan maksud “Sawadul A’zham”, Kitab As-Sindi menyatakan;
 أَيْ بِالْجَمَاعَةِ الْكَثِيرَة فَإِنَّ اِتِّفَاقهمْ أَقْرَب إِلَى الْإِجْمَاع

Maksudnya : “Jama’ah yang ramai. Karena, kesepakatan mereka itu lebih mendekati kepada ijma'” [Hasyiah As Sindi :3942]

Imam As-Sayuti dalam menafsirkan “Sawadul A’zham”;
 أَيْ جَمَاعَة النَّاس وَمُعْظَمهمْ الَّذِينَ يَجْتَمِعُونَ عَلَى سُلُوك الْمَنْهَج الْمُسْتَقِيم وَالْحَدِيث يَدُلّ عَلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي الْعَمَل بِقَوْلِ الْجُمْهُور

Maksudnya; “Ia adalah himpunan manusia dan kebanyakan yang mereka bersepakat atas melalui jalan yang betul. Hadis itu menunjukkan bahawa selayaknya beramal dengan perkataan mayoritas” [Hasyiah As-Sindi : 3940]

Al-Munawi pula berkata;
 )فعليكم بالسواد الأعظم) من أهل الإسلام أي الزموا متابعة جماهير المسلمين فهو الحق الواجب والفرض الثابت الذي لا يجوز خلافه فمن خالف مات ميتة جاهلية

Maksudnya; “[hendaklah kamu ikut Sawadul A’zham dari ahli islam] yaitu, lazimnya mengikut pendapat mayoritas orang islam, karena ia adalah kebenaran yang wajib dan fardhu yang pasti, yang tidak boleh menyalahinya. Barangsiapa menyalahinya, lalu ia mati, maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah” [Faidhul Qadir : 2/547] Pendapat ini, sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu'alaiwasallam ;
 اثْنَانِ خَيْرٌ مِنْ وَاحِدٍ وَثَلَاثٌ خَيْرٌ مِنْ اثْنَيْنِ وَأَرْبَعَةٌ خَيْرٌ مِنْ ثَلَاثَةٍ فَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَنْ يَجْمَعَ أُمَّتِي إِلَّا عَلَى هُدًى

Maksudnya; “dua lebih baik dari satu. Tiga lebih baik dari dua. Empat lagi baik dari tiga. Hendaklah kamu dengan jama’ah [mayoritas], karena Allah SWT tidak akan menghimpunkan umatku kecuali atas petunjuk”

[Musnad Ahmad : 20331] Imam Al-Munawi menyebutkan tentang Jamaah:
 ))وعليكم بالجماعة)) أي أركان الدين والسواد الأعظم من أهل السنة أي الزموا هديهم فيجب اتباع ما هم عليه من العقائد والقواعد وأحكام الدين

Maksudnya: “(Hendaklah kamu bersama dengan Al-Jamaah) yaitu berpegang dengan rukun-rukun agama dan As-Sawad Al-A’zam dari kalangan Ahlus-Sunnah. Yaitu, kamu ikutilah petunjuk mereka. Maka hendaklah seseorang itu mengikut apa yang mereka berpegang dengannya daripada Aqidah (Mazhab Aqidah), Qawa’id (Usul Aqidah dan Usul Fiqh) dan Hukum Agama (Mazhab Fiqh). [Al-Faidh Al-Qadir 3/101]

Makna As Sawadul A’zham :

As Sawad artinya sesuatu yang berwarna hitam, dalam bentuk plural. Al A’zam artinya besar, agung, banyak. Sehingga As Sawadul A’zham secara bahasa artinya sesuatu yang berwarna hitam dalam jumlah yang sangat banyak. Menggambarkan orang-orang yang sangat banyak karena rambut mereka umumnya hitam.

Dalam terminologi syar’iy, kita telah dapati bahwa As Sawaadul A’zham itu semakna dengan Al Jama’ah. Sebagaimana penjelasan Ath Thabari : “…Dan makna Al Jama’ah adalah As Sawadul A’zam. Kemudian Ath Thabari berdalil dengan Riwayat Muhammad bin Sirin dari Abu Mas’ud bahwa beliau berwasiat kepada orang yang bertanya kepadanya ketika Utsman bin ‘Affan terbunuh, Abu Mas’ud menjawab: hendaknya engkau berpegang pada Al Jama’ah karena Allah tidak akan membiarkan umat Muhammad bersatu dalam kesesatan.. ” (Fathul Baari, 13/37)

Dalam Hadist lain Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam bersabda :
“Diperlihatkan kepadaku umat manusia seluruhnya. Maka akupun melihat ada Nabi yang memiliki pengikut sekelompok kecil manusia. Dan ada Nabi yang memiliki pengikut dua orang. Ada Nabi yang tidak memiliki pengikut. Lalu diperlihatkan kepadaku sekelompok hitam yang sangat besar, aku mengira itu adalah umatku. Lalu dikatakan kepadaku, ‘itulah Nabi Musa 'alaihisalam dan kaumnya’. Dikatakan kepadaku, ‘Lihatlah ke arah ufuk’. Aku melihat sekelompok hitam yang sangat besar. Dikatakan lagi, ‘Lihat juga ke arah ufuk yang lain’. Aku melihat sekelompok hitam yang sangat besar. Dikatakan kepadaku, ‘Inilah umatmu dan diantara mereka ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab’.” (HR. Bukhari 5705, 5752, Muslim, 220)

Maka makna As Sawaadul A’zham mencakup seluruh makna dari Al Jama’ah. Dipertegas lagi dengan beberapa penjelasan lain dari para sahabat dan para ulama mengenai makna As Sawaadul A’zham berikut ini.

Sahabat Nabi, Abu Umamah Al Bahili Radhiallahu’anhu, berkata : “Berpeganglah kepada As Sawadul A’zam. Lalu ada yang bertanya, siapa As Sawadul A’zham itu? Lalu Abu Umamah membaca ayat dalam surat An Nur:
 فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ

(HR. Ahmad no.19351. Sanadnya shahih sebagaimana dikatakan Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid 5/220) Allah berfirman : “Katakanlah (wahai Muhammad): “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.

Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang” (QS. An Nuur: 54)

Dalam ayat lain saya tambahkan Allah Ta'ala berfirman :
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا    

Maksudnya : Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.(An Nisa : 115)

Abu Umamah mengisyaratkan bahwa makna As Sawadul A’zam adalah orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, atau dengan kata lain, pengikut kebenaran.

Muhammad bin Aslam Ath Thuusiy (wafat 242H) berkata: “Berpeganglah pada As Sawadul A’zham. Orang-orang bertanya, siapa As Sawadul A’zhham itu? Beliau (Muhammad bin Aslam) menjawab, ia adalah seorang atau dua orang yang berilmu, yang berpegang teguh pada sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan mengikuti jalannya. Bukanlah As Sawaadul A’zham itu mayoritas kaum muslimin secara mutlak. Barangsiapa berpegang pada seorang atau dua orang tadi dan mengikutinya, maka ia adalah Al Jama’ah. Dan barangsiapa yang menyelisihi mereka, ia telah menyelisihi ahlul jama’ah” (Thabaqat Al Kubra Lisy Sya’rani, 1/54)

Muhammad bin Aslam sendiri oleh ulama sezamannya, Ishaq bin Rahawaih (wafat 238H), dikatakan sebagai As Sawaadul A’zham: Ada seorang yang bertanya, wahai Abu Ya’qub (Ishaq bin Rahawaih), siapa As Sawadul A’zham itu? Beliau menjawab: Muhammad bin Aslam, murid-muridnya dan para pengikutinya. Kemudian beliau berkata: Aku tidak pernah mendengar orang yang alim sejak 500 tahun yang lebih berpegang teguh pada sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam selain Muhammad bin Aslam” (Siyar ‘Alamin Nubala, 9/540)

Abdullah Bin Mubarak (wafat 181H) ditanya as sawaadul a’zham: “Seorang lelaki bertanya kepada Ibnul Mubarak, wahai Abu Abdirrahman siapa As Sawadul A’zam itu? Beliau menjawab, Abu Hamzah As Sakuni” (Hilyatul Aulia, 9/238)

Lihatlah Imam Al-Munawi membuat kesimpulan bahwasanya Al-Jamaah adalah suatu:
Ø      Rukun-rukun agama
Ø      As-Sawad Al-A’zam
Ø      Ahlus-Sunnah

Maksudnya, berpegang dengan As-Sawad Al-A’zam berarti berpegang dengan Ahlus-Sunnah. Berpegang dengan Ahlus-Sunnah berarti berpegang teguh dengan rukun-rukun agama. Berpegang dengan rukun-rukun agama tersebutlah berarti berpegang teguh dengan Al-Jamaah.

Maka, bagaimana dapat berpegang dengan As-Sawad Al-A’zam? Imam Al-Munawi menyebutkan bahwasanya, kita perlu mengikut manhaj mereka dalam perkara-perkara :
Ø      Aqidah
Ø      Ushul (kaedah2 baik dalam fiqh atau aqidah)
Ø      Fiqh.

Jadi, pegangan "mayoritas" ulama' adalah berkenaan dengan tiga bidang agama tersebut yaitu Kesepakatan dalam bidang Aqidah pada masalah2 Ushul (yang bersumberkan dalil2 qath'iy tsubut dan dilalah) dan kesepakatan dalam bidang Usul (Usul Aqidah atau Fiqh)

Syeikh Asy Syatibi berkata sebagai berikut yang bermaksud : "Fatwa-fatwa para mujtahid itu bagi para orang awam bagaikan dalil syariat bagi para mujtahidin. Adapun alasannya ialah ada atau tidak adanya dalil bagi orang yang taqlid (muqallid) adalah sama saja. Karena mereka sedikit pun tidak mampu mengambil faedah darinya. Jadi, masalah meneliti istinbath bukanlah urusan mereka dan mereka tidak diperkenankan melakukan hal tersebut (Al Muwafaqat) .

Dan sungguh Allah Subhanhu wa ta'ala telah berfirman yang bermaksud :
... ۚ فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"(Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui) – (Surah An Nahl :43)

Orang yang taqlid bukanlah orang yang ‘alim. Oleh kerana itu, tidak sah baginya selain bertanya kepada ahli ilmu. Para ahli ilmu itulah tempat kembali baginya dalam urusan hukum agama secara mutlak. Jadi, kedudukan mereka bagi orang yang taqlid serta ucapannya seperti syara'."

Wallahuwalyyuttaufiq Walhidayah Wassalamu'alikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Oleh : 
Al Faqir, 
Hadya Noer (https://www.facebook.com/hadya.noer)
Pengurus Harian DPP PERTI
===

Diedit dan ditambah kembali oleh Nawawi Hakimis
Ketua Pemuda Islam Perti Manggeng

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar