Saleum Troeh Teuka

Saleum Troeh Teuka
Selamat datang wahai saudaraku ke tempat kami

Selasa, 11 Oktober 2011

Syariat Thariqat Hakikat Makrifat

Syari'at, Thariqat, Haqiqat & Ma'rifat ======================

 Ilmu Syariat itu jadi Khazanah (tempat penyimpanan utama). ilmu Thariqat, Haqiqat dan Ma'rifat terkandung di dalamnya. Ilmu Tarekat itu jadi jalan sejati bila ingin mengetahui Tuhan. Lebih sukar karena sulit. Hati sanubari. Ilmu Hakekat itu pasti. Tahu yang sebenarnya, Kenyataan sifat-sifat Tuhan. Akan tetapi Allah tak dapat dilihat. Terlihat juga hanya pada sifat-sifatNya. Melihat tuhan hanya lah bisa lewat mengenal keagungan sifat dan khalqahNya Ilmu Makrifat yang lebih tinggi, Artinya tahu dengan jelas.

Sadarilah itu dalam hidupmu! Sebab hidup nafas masuk-keluar itulah sebenarnya. Tahu dengan sebenar-benarnya. Bila mata tertutup sifat yang Maha Kuasa nampak bercahaya. Bila mata terbuka tersaksi dalam dzat segala-galanya yang terlihat itu. Ruang alam terang-benderang, ini sifat Yang Maha Agung.

Beramal dalam Islam ada tertibnya. Ada urutan dan susunannya. Ada "progression" nya dari satu tahap ke tahap yang lebih tinggi. Ia bermula dengan Syari'at , kemudian dengan Tariqat , diikuti pula dengan hakikat dan diakhiri dengan Makrifat. sehingga yang perlu diperhatikan adalah salah satu dari empat macam itu tidak bisa ditinggalkan disaat sudah mencapai ke tingkat lain, karena kedudukan mereka laksana berpisah dalam kesatuan dan berkesatuan dalam berkepisahan 

Seringnya kita mendengar tentang kalimat Syari'at, Thariqat, Haqiqat & Ma'rifat, sehingga perlulah bagi kita untuk mengenal kalimat itu masing-masing secara lebih mendalam. sebagian dari kalimat-kalimat perumpamaan dari kalimat diatas sering diumpamakan sebgai telur, pohon kayu dll.

Perumpamaan Telur



Syari'at = Kulit luarnya
Thariqat = Putih telurnya
Hakikat = Merah Telur
Ma'rifat = Inti dari merah telu Tidak ada telur tanpa kulit, sebagaimana tasawuf tanpa syariat. Bahkan kulit telur itu mesti diupayakan jangan sampai retak, apalagi pecah. Kalaulah tidak, maka dapat dipastikan seluruh isi telur itu akan membusuk dan tidak berguna lagi.

Perumpamaan Tanaman
Kalau Tashawuf diibaratkan tanaman,
Syari'at = Pohon 
Thariqatnya = Menyiram, memupuk dan memeliharanya dari hama dan berbagai macam gangguan, agar menghasilkan buah hakikat.
Haqiqat = Buah
Ma'rifat = Berhasilnya tanaman itu dapat sehingga dapat mencicipi dan menikmati buah tanamannya

Perumpamaan Perjalanan
Orang yang akan atau sedang melakukan perjalanan, ibaratnya sebuah kendaraan.
Syariat = Jalan raya yang harus dilalui .
Thariqat = adalah jalan-jalan kecil sebagai jurusan yang akhirnya mengarah kepada terminal hakikat. 
Terminal = jurusan akhir dari perjalanan
Hakikat = tujuan terakhir dari perjalanan

Syariat itu bagaikan perahu
Thariqat bagaikan lautan
Hakikat itu mutiara yang sangat mahal harganya

Syari’at adalah perbuatan (jasad) si hamba dalam melaksanakan ibadah kepada Allah harus dengan semurni-murninya ibadah.
Thariqat adalah jalan (hati) untuk menuju kesuatu tujuan yang diridhai Allah, dengan hati yang bersih dan ikhlas atas segala perbuatan dan menerima cobaan Allah SWT.
Haqiqat (nyawa) adalah tujuan untuk mencapai keridhaan Allah sehingga terbukti adanya “diri yang hakiki” yang kita hanya dapat merasakan dan sadari, bahwa diri yang yang keluar dari diri, sehingga kita dapat membuktikan dengan kesadaran yang hakiki tentang Kekuasaan Allah, tentang Rahasia Alam, tentang Alam Ghaib dan lain-lainnya.
Ma’rifat (Rahasia Allah), adalah sampainya suatu tujuan sehingga terwujud suatu kenyataan dan terbukti kebe narannya (tidak diragukan lagi).
========

Nasehat Imam Malik Rahimahullah

 و من تصوف و لم يتفقه فقد تزندق من تفقه و لم يتصوف فقد تفسق و من جمع بينهما فقد تخقق “
Barang siapa yang ber Tashawuf tanpa mempelajari fiqih maka ia adalah Zindiq (rusak keimanannya) , sementara orang yang belajar fikih tanpa mengamalkan nilai Tashawuf maka ia adalah orang yang rusak. namun barang siapa yang memadukan keduannya benarlah ia “.

Imam Syafi’i rahimahullah dalam [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47] pernah menasehati kita dengan tulisannya :

 فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح
 فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح

“Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kenikmatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan).

 Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani berkata : “ Ketahuilah wahai anak-anakku, mudah-mudahan Tuhan memberikan taufiq kepada kami dan engkau dan semua ummat Islam, aku wasiatkan kepada kamu bahwa engkau tetap menjalankan syari’at dan memelihara batas-batasnya. Ketahuilah wahai anak-anakku, bahwa thariqat kami ini didasarkan atas al-Qur’an dan as-Sunnah “. Kemudian Syeikh Ibrahim An-Nasharbadzi, berkata : “ Asal atau dasar ajaran ini (tasawwuf) adalah menetapi kitab dan sunnah, meninggalkan hawa nafsu dan bid’ah, berpegang pada imam-imam, mengikuti ulama salaf, meninggalkan sesuatu yang diadakan oleh orang-orang belakangan dan berdiri diatas jalan yang ditempuh oleh orang-orang terdahulu”.
 =============

Ada yang mengatakan bahwa Perjalanan spiritual justeru dimulai dari MA’RIFAT, ke THARIQAT, lalu ke HAQIQAT dan akhirnya sampai pada SYARIAT.

Mereka mengumpamakan dengan :
MA'RIFAT adalah bertemu dan mencairnya kebenaran yang hakiki: yang disimbolkan saat Muhammad SAW bertemu Malaikat Jibril,
HAQIQAT saat dia mencoba untuk merenungkan berbagai perintah untuk IQRA,
THARIQAT saat Nabi Muhammad SAW berjuang untuk menegakkan jalanNya dan
SYARIAT adalah saat Nabi Muhammad SAW mendapat perintah untuk sholat saat Isra Mikraj yang merupakan puncak pendakian tertinggi yang harus dilaksanakan oleh umat muslim. karena hal tersebut diatas, sehingga mereka mengatakan SYARIAT SHALAT ADALAH PUNCAK PENDAKIAN SPIRITUAL yang terkadang justeru dilalaikan oleh kaum sufi dan para ahli spiritual. Padahal, Nabi MUHAMMAD SAW memberi tuntunan tidak seperti itu.

3 komentar:

  1. pernah di share ke : https://www.facebook.com/notes/nawawi-hakimis/syariat-thariqat-hakikat-makrifat/10150352276593464

    BalasHapus
  2. Yth Tgk Nawawi Hakimis

    salam rahmat untuk akhi
    kalau boleh berkomentar secara umum blog ini bagus, tulisan2nya bermutu, meskipun kami belum membacanya semuanya, dan hanya sebatas judul2nya. khusus dengan tulisan di atas menurut hamba yang sedikit ilmu ini ada sedikit yang mengganjal, yakni :
    1. perkataan : "Akan tetapi Allah tak dapat dilihat. Terlihat juga hanya pada sifat-sifatNya" . menurut sepengetahuan kami, zat dan sifat Allah sama2 qadim, tidak dapat dilihat di dunia ini sebagaimana kisah Musa minta melihat Allah di dunia. namun berdasar firman Allah yg lain, Allah dapat dilihat bagi orang2 yg beruntung di akhirat kelak, tentu dgn zat dan sifat2nya yang qadim. seandainya maksud tgk dengan sifat2 itu adalah alam ini (objek ta'alluq sifat Allah) maka ini dapat diterima, namun bagaimana pun perkataan tersebut dapat menggelicirkan umat kepada kesalahpahaman (salek buta)
    2. perkataan : "Bila mata tertutup sifat yang Maha Kuasa nampak bercahaya". "Nampak bercahaya" adalah sifat jisim, apakah mungkin pada akal sifat Allah yg qadim bersifat dengan sifat baharu (sifat jisim) ?. ini mengarah kepada kepada i'tiqad mujassamah.
    menurut hemat kami, kita harus berhati2 menterjemahkan istilah2 dalam ilmu tasauf, karena itu sangat berbahaya dalam kajian akidah kita yg benar. seperti istilah "nur", apakah itu tepat diterjemah dengan "cahaya" ? apalagi tulisan ini dibaca oleh semua kalangan.
    mohon maaf, kalau komentar ini tidak mengena

    syukran jazila ya akhiii...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas tanggapannya Akhy Tgk Alizar Usman

      Hapus